Oleh: Nur Khodijah Noviningrum, S. Pd. I
Guru PAI
& BP di SDN 1 Tamanwinangun / Calon Guru Penggerak Angkatan 11
Pendidikan
Agama Islam dan Budi Pekerti (PAI & BP) di sekolah dasar sering kali
terjebak dalam labirin formalitas akademik. Murid dituntut menghafal rukun
sholat, fasih melafalkan doa, dan meraih nilai tinggi di atas kertas. Namun,
ketika mereka melangkah keluar dari gerbang sekolah dan kembali ke rumah,
sebuah paradoks besar kerap terjadi: kesadaran untuk menggelar sajadah secara
tertib dan mandiri justru melorot tajam.
Hasil tanya
jawab santai dengan para murid di sela-sela pembelajaran mengonfirmasi
kenyataan pahit ini. Banyak anak yang melakukan gerakan sholat hanya sekadar
rutinitas tanpa makna, bahkan belum hafal bacaannya dengan benar.
Pertanyaannya, di mana letak hilangnya mata rantai internalisasi nilai-nilai
ibadah ini? Mengapa materi sholat yang diajarkan bertahun-tahun di kelas seolah
menguap begitu saja saat anak berada di lingkungan domestik?
Jebakan Formalitas dan
Tantangan Kejujuran
Akar
masalahnya terletak pada hilangnya ruang pemantauan yang berkelanjutan dan
minimnya pelibatan kepemimpinan murid (student agency) dalam ekosistem
belajar mereka. Guru sering kali menjadi satu-satunya otoritas penilai di
sekolah, sementara di rumah, aktivitas ibadah anak lepas dari pengawasan
terstruktur.
Menjawab
tantangan tersebut, sebuah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) inovatif digulirkan
di SDN 1 Tamanwinangun melalui program BP. ShoLi (Buku Pemantauan Sholat Lima
Waktu). Program ini bukan sekadar buku kendali biasa yang pasif. Di sinilah
konsep student agency—yang meliputi suara (voice), pilihan (choice),
dan kepemilikan (ownership) murid—diuji di dunia nyata.
Murid
diberikan kepercayaan penuh untuk merekam aktivitas ibadah mereka sendiri
setiap hari. Tentu saja, memindahkan otoritas pengawasan ke tangan anak bukan
tanpa risiko. Tantangan terbesar dari program baru ini adalah kejujuran. Ada
ketakutan universal bahwa anak-anak akan berbohong atau sekadar "mengisi
centang" demi mendapatkan stempel apresiasi dari guru di sekolah.
Namun, di
sinilah letak transformasi karakternya. Pendidikan agama tidak boleh menjauhkan
anak dari realita tantangan moral, melainkan harus mendidik mereka bagaimana
menghadapi tantangan tersebut.
Sinergi Tiga Pilar: Sekolah,
Rumah, dan Jiwa Mandiri
Melalui
aksi nyata PTK ini, kita disadarkan bahwa pembentukan karakter Profil Pelajar
Pancasila—khususnya dimensi Beriman, Bertakwa, dan Mandiri—tidak bisa dilakukan
secara soliter oleh guru agama saja. Perlu ada pemanfaatan aset modal sosial
yang kuat, yaitu kolaborasi intim antara guru kelas, guru PAI, dan orang tua.
Orang tua
di rumah tidak lagi bertindak sebagai "polisi pamong praja" yang hobi
memarahi anak saat waktu sholat tiba, melainkan hadir sebagai mitra validator
yang mendampingi dan memverifikasi pengisian buku secara jujur. Sementara itu,
guru di sekolah berperan melakukan refleksi mingguan, memberikan stempel
rekapitulasi, serta menyuntikkan motivasi lewat dialog dua arah yang hangat,
bukan penghakiman.
Ketika anak
merasa memiliki (ownership) atas ibadahnya sendiri, dan didukung oleh
ekosistem yang kolaboratif, motivasi intrinsik akan tumbuh. Sholat tidak lagi
dipandang sebagai beban atau perintah vertikal yang menakutkan, melainkan
sebuah kebutuhan spiritual yang mereka pilih sendiri dengan penuh tanggung
jawab.
Catatan untuk Masa Depan
Pendidikan Agama
Melalui
program BP. ShoLi, kita belajar bahwa inovasi pendidikan tidak selalu
membutuhkan teknologi digital yang mahal. Dengan mengoptimalkan modal fisik
sederhana seperti buku tulis dan stempel, serta modal manusia yang berkomitmen,
kualitas karakter kelas dan sekolah dapat diubah secara signifikan.
Sudah
saatnya media massa dan para praktisi pendidikan menggeser fokus kita.
Indikator keberhasilan Pendidikan Agama Islam tidak boleh lagi diukur hanya
dari deretan angka di buku rapor. Keberhasilan sejati adalah ketika seorang
anak, tanpa diminta oleh orang tuanya dan tanpa diawasi oleh gurunya, dengan
sukarela mengambil air wudhu begitu adzan berkumandang.
Program BP.
ShoLi di SDN 1 Tamanwinangun telah menyalakan lilin kecil itu. Tugas kita
bersama adalah menjaga agar nyala api kemandirian dan keimanan tersebut tidak
padam teras keringnya zaman.
Program yang sangat bagus dan menginspirasi, Bu Guru. Sukses selalu dan tetap semangat mencetak generasi bangsa yang berakhlak mulia.
BalasHapus