SELAMAT DATANG DI SD NEGERI 1 TAMANWINANGUN KECAMATAN KEBUMEN KABUPATEN KEBUMEN PROVINSI JAWA TENGAH

Rabu, 24 Juni 2026

Menghidupkan Roh Sholat di Rumah: Menakar Ulang Esensi Nilai PAI Lewat "Student Agency"

 Oleh: Nur Khodijah Noviningrum, S. Pd. I

Guru PAI & BP di SDN 1 Tamanwinangun / Calon Guru Penggerak Angkatan 11

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti (PAI & BP) di sekolah dasar sering kali terjebak dalam labirin formalitas akademik. Murid dituntut menghafal rukun sholat, fasih melafalkan doa, dan meraih nilai tinggi di atas kertas. Namun, ketika mereka melangkah keluar dari gerbang sekolah dan kembali ke rumah, sebuah paradoks besar kerap terjadi: kesadaran untuk menggelar sajadah secara tertib dan mandiri justru melorot tajam.

Hasil tanya jawab santai dengan para murid di sela-sela pembelajaran mengonfirmasi kenyataan pahit ini. Banyak anak yang melakukan gerakan sholat hanya sekadar rutinitas tanpa makna, bahkan belum hafal bacaannya dengan benar. Pertanyaannya, di mana letak hilangnya mata rantai internalisasi nilai-nilai ibadah ini? Mengapa materi sholat yang diajarkan bertahun-tahun di kelas seolah menguap begitu saja saat anak berada di lingkungan domestik?

Jebakan Formalitas dan Tantangan Kejujuran

Akar masalahnya terletak pada hilangnya ruang pemantauan yang berkelanjutan dan minimnya pelibatan kepemimpinan murid (student agency) dalam ekosistem belajar mereka. Guru sering kali menjadi satu-satunya otoritas penilai di sekolah, sementara di rumah, aktivitas ibadah anak lepas dari pengawasan terstruktur.

Menjawab tantangan tersebut, sebuah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) inovatif digulirkan di SDN 1 Tamanwinangun melalui program BP. ShoLi (Buku Pemantauan Sholat Lima Waktu). Program ini bukan sekadar buku kendali biasa yang pasif. Di sinilah konsep student agency—yang meliputi suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) murid—diuji di dunia nyata.

Murid diberikan kepercayaan penuh untuk merekam aktivitas ibadah mereka sendiri setiap hari. Tentu saja, memindahkan otoritas pengawasan ke tangan anak bukan tanpa risiko. Tantangan terbesar dari program baru ini adalah kejujuran. Ada ketakutan universal bahwa anak-anak akan berbohong atau sekadar "mengisi centang" demi mendapatkan stempel apresiasi dari guru di sekolah.

Namun, di sinilah letak transformasi karakternya. Pendidikan agama tidak boleh menjauhkan anak dari realita tantangan moral, melainkan harus mendidik mereka bagaimana menghadapi tantangan tersebut.

 

Sinergi Tiga Pilar: Sekolah, Rumah, dan Jiwa Mandiri

Melalui aksi nyata PTK ini, kita disadarkan bahwa pembentukan karakter Profil Pelajar Pancasila—khususnya dimensi Beriman, Bertakwa, dan Mandiri—tidak bisa dilakukan secara soliter oleh guru agama saja. Perlu ada pemanfaatan aset modal sosial yang kuat, yaitu kolaborasi intim antara guru kelas, guru PAI, dan orang tua.

Orang tua di rumah tidak lagi bertindak sebagai "polisi pamong praja" yang hobi memarahi anak saat waktu sholat tiba, melainkan hadir sebagai mitra validator yang mendampingi dan memverifikasi pengisian buku secara jujur. Sementara itu, guru di sekolah berperan melakukan refleksi mingguan, memberikan stempel rekapitulasi, serta menyuntikkan motivasi lewat dialog dua arah yang hangat, bukan penghakiman.

Ketika anak merasa memiliki (ownership) atas ibadahnya sendiri, dan didukung oleh ekosistem yang kolaboratif, motivasi intrinsik akan tumbuh. Sholat tidak lagi dipandang sebagai beban atau perintah vertikal yang menakutkan, melainkan sebuah kebutuhan spiritual yang mereka pilih sendiri dengan penuh tanggung jawab.

Catatan untuk Masa Depan Pendidikan Agama

Melalui program BP. ShoLi, kita belajar bahwa inovasi pendidikan tidak selalu membutuhkan teknologi digital yang mahal. Dengan mengoptimalkan modal fisik sederhana seperti buku tulis dan stempel, serta modal manusia yang berkomitmen, kualitas karakter kelas dan sekolah dapat diubah secara signifikan.

Sudah saatnya media massa dan para praktisi pendidikan menggeser fokus kita. Indikator keberhasilan Pendidikan Agama Islam tidak boleh lagi diukur hanya dari deretan angka di buku rapor. Keberhasilan sejati adalah ketika seorang anak, tanpa diminta oleh orang tuanya dan tanpa diawasi oleh gurunya, dengan sukarela mengambil air wudhu begitu adzan berkumandang.

Program BP. ShoLi di SDN 1 Tamanwinangun telah menyalakan lilin kecil itu. Tugas kita bersama adalah menjaga agar nyala api kemandirian dan keimanan tersebut tidak padam teras keringnya zaman.

 

1 komentar:

  1. Program yang sangat bagus dan menginspirasi, Bu Guru. Sukses selalu dan tetap semangat mencetak generasi bangsa yang berakhlak mulia.

    BalasHapus

Menghidupkan Roh Sholat di Rumah: Menakar Ulang Esensi Nilai PAI Lewat "Student Agency"

  Oleh: Nur Khodijah Noviningrum, S. Pd. I Guru PAI & BP di SDN 1 Tamanwinangun / Calon Guru Penggerak Angkatan 11 Pendidikan Agama...